TRISULAMALUKU.COM, Ambon, 6 November 2025 — Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Ambon menyoroti ketimpangan alokasi anggaran pembangunan antar kecamatan di Kota Ambon. Hal ini disampaikan oleh Anggota DPRD Kota Ambon, Zeth Pormes, yang menilai pemerintah kota belum menunjukkan keadilan dalam pemerataan pembangunan, khususnya di Kecamatan Letisel.
Menurut Pormes, dalam sejumlah kebijakan pembangunan, hanya beberapa kecamatan yang mendapatkan prioritas. Sementara itu, ada wilayah lain—termasuk Letisel—yang belum tersentuh secara maksimal.
“Dari beberapa kebijakan yang ada, kita hanya melihat empat kecamatan yang mendapatkan perhatian lebih dalam pembangunan. Sekarang pun dalam Rencana Umum Pemerintah ( Rumper ), hanya 34 kecamatan yang menjadi prioritas, dan letisel tidak termasuk didalamnya”, ujar Pormes dalam wawancara di Ambon, kamis ( 6/7/2025) .
Ia menambahkan, persoalan pelayanan publik seperti pengelolaan sampah juga menjadi keluhan warga Letisel. Meski masyarakat di wilayah tersebut telah lama meminta pelayanan dan bersedia membayar retribusi, hingga kini belum ada realisasi dari pemerintah.
“Warga Letisel sudah meminta agar pelayanan sampah dilakukan dan mereka siap membayar retribusinya. Kami dari fraksi Golkar meminta agar pemerintah daerah hadir dan memperhatikan kebutuhan masyarakat di sana”, ujarnya .
Lebih lanjut, Pormes menekankan bahwa meskipun jumlah penduduk Letisel tidak sebesar kecamatan lain, namun wilayah itu memiliki nilai historis dan kultural penting. Warga Letisel dikenal sebagai negeri-negeri adat asli yang menjadi bagian dari identitas Kota Ambon.
“Mereka adalah warga adat asli yang hidup di wilayah kota. Karena itu sudah sepatuhnya pemerintah memberi kehormatan dan perhatian melalui percepatan pembangunan”,ujarnya.
Pormes berharap, pemerintah kota dapat menata ulang prioritas pembangunan agar seluruh kecamatan di Kota Ambon mendapatkan porsi yang adil. Dengan demikian, pemerataan pembangunan bisa benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk di lima kecamatan yang selama ini dinilai tertinggal. (Om)












