Produksi Pangan Maluku Naik, Namun Masih Defisit untuk Penuhi Kebutuhan Konsumsi dan Program MBG

Berita, Pemda Maluku166 Dilihat

TRISULAMALUKU.COM, Ambon – Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Ilham Tauda, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi pangan daerah sepanjang 2025 belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Sejumlah komoditas strategis masih mengalami defisit, sehingga Maluku tetap bergantung pada pasokan dari luar daerah, khususnya untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal tersebut disampaikan Ilham saat Coffee Morning yang digelar Dinas Pendidikan Provinsi Maluku di Cafe View Karang Panjang, Ambon, Selasa (16/12/2025).

Ilham menjelaskan, produksi beras Maluku pada 2025 mencapai sekitar 51 ribu ton atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini ditopang oleh keberhasilan program luas tambah tanam yang melampaui target nasional, sebagaimana tercatat dalam rilis Badan Pusat Statistik hingga Desember 2025.

Namun demikian, kebutuhan beras Maluku masih jauh lebih besar. Defisit lebih dari 100 ribu ton membuat pasokan dari luar daerah belum dapat dihindari. Bahkan, dari total kebutuhan Program MBG, baru sekitar 10 persen yang dapat dipenuhi dari produksi lokal.

“Produksi memang naik, tapi belum cukup untuk menutup kebutuhan. Ini menjadi tantangan serius sektor pertanian Maluku,” ujar Ilham.

Berbeda dengan beras, komoditas jagung justru mengalami surplus. Dari total produksi sekitar 7.500 ton, Maluku mencatat surplus sebesar 3.800 ton berkat gerakan tanam masif yang melibatkan pemerintah daerah, TNI, dan Polri.

Sementara itu, bawang merah masih menjadi komoditas rentan akibat keterbatasan dukungan anggaran, sehingga pengembangannya banyak bergantung pada swadaya petani. Untuk cabai rawit, Ilham memastikan ketersediaan aman hingga Natal dan Tahun Baru menyusul gerakan tanam serempak sejak Agustus 2025.

Di sektor peternakan, produksi telur ayam baru mampu memenuhi sekitar 39 persen kebutuhan daerah, sementara daging ayam sekitar 30 persen. Sebaliknya, Maluku justru mencatat surplus daging sapi hingga 125 persen dari kebutuhan.

“Komoditas ayam dan telur menjadi tantangan terbesar dalam mendukung MBG, namun juga membuka peluang besar pengembangan peternakan lokal,” katanya.

Sebagai upaya penguatan, Maluku ditetapkan sebagai salah satu dari 12 provinsi penerima program pengembangan peternakan terintegrasi dari Kementerian Pertanian. Program ini menargetkan produksi awal hingga 100 ribu ekor ayam.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Maluku menargetkan 70 hingga 80 persen kebutuhan konsumsi masyarakat dapat dipenuhi dari produksi lokal melalui penguatan sektor hulu pertanian dan peternakan, guna mendukung keberlanjutan Program MBG serta meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *